Rabu, 02 September 2009

PENGARUH PERMAINAN TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK USIA SD

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa anak-anak merupakan masa yang terpanjang dalam rentang kehidupan, saat dimana individu relatif tidak berdaya dan tergantung pada orang lain. Pada saat ini secara luas diketahui bahwa masa anak-anak dibagi dalam dua periode yang berbeda yaitu awal dan akhir masa anak-anak. Periode awal berlangsung dari umur dua sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya anak matang secara seksual. Dengan demikian, awal masa anak-anak dimulai sebagai penutup masa bayi, usia dimana ketergantungan secara praktis sudah dilewati, diganti dengan timbulnya kemandirian dan berakhir di sekitar usia masuk sekolah dasar. Sedangkan, masa akhir anak-anak ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak.

Anak dan permainan merupakan dua pengertian yang hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Berpikir mengenai anak selalu menimbulkan asosiasi mengenai bermain. Dunia anak memang dunia bermain. Namun, sekarang di Indonesia pada umumnya orang tua menganggap permainan bagi anak sebagai pembuangan waktu dan merasa bahwa waktu untuk bermain lebih baik digunakan untuk mempelajari sesuatu yang berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa. Sebaliknya, Bruner dalam Hurlock (1999) menyatakan bahwa bermain dalam masa anak-anak adalah “kegiatan yang serius” yang merupakan kegiatan pokok dalam masa anak-anak. Ia menjelaskan:

Kita sekarang mengerti bahwa bermain merupakan aktivitas yang serius, bahkan merupakan kegiatan pokok dalam masa anak-anak. Ini merupakan sarana untuk improvisasi dan kombinasi, sarana pertama dari sistem peraturan melalui kendali-kendali budaya menggantikan sifat anak yang dikuasai oleh dorongan-dorongan kekanak-kanakan.

Permainan merupakan gejala yang umum di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan anak-anak. Permainan merupakan kesibukan yang dipilih sendiri tanpa ada unsur paksaan, tanpa didesak oleh rasa tanggung jawab. Permainan tidak mempunyai tujuan tertentu. Tujuan permainan terletak dalam permainan itu sendiri dan dapat dicapai pada waktu bermain. Bermain tidak sama dengan bekerja. Bekerja mempunyai tujuan yang lebih lanjut; tujuannya tercapai setelah pekerjaan itu selesai. Anak-anak suka bermain karena di diri mereka terdapat dorongan batin dan dorongan mengembangkan diri.

Bagi anak-anak yang normal, permainan itu merupakan perjalanan sejarah. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya buku harian yang disusun oleh orang tua mengenai perkembangan anaknya sendiri. Di dalam catatan itu dikemukakan, mula-mula anak dengan badannya sendiri, seperti dengan tangan dan kakinya sendiri. Kemudian anak-anak bermain-main dengan alat permainannya. Setelah mencapai umur tiga atau empat tahun, ia membutuhkan kawan untuk bersama-sama. Walaupun pada mulanya mereka bermain-main secara sendiri-diri dengan alat permainannya masing-masing, setelah itu mereka akan bermain bersama-sama dengan kedudukan yang sederajat. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka bermain di bawah pimpinan salah seorang diantara mereka sendiri, namun pada pelaksanaan kegiatan bermain itu, tampaknya mereka tidak mengalami kesulitan karena mereka telah mampu menaati pemimpinnya. Hal ini memberikan pengaruh pada perkembangan anak untuk bersikap penuh tanggung jawab. Bila masih ada anggapan orang tua yang mengatakan “permainan tidak ada gunanya”, lebih baik anak-anak dilatih untuk melakukan pekerjaan yang berfaedah, maka perlu diberi pemahaman lebih mengenai faedah permainan. Pendapat tersebut mungkin kurang begitu tepat dan bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Melalui kegiatan bermain daya pikir anak terangsang untuk merangsang perkembangan emosi, perkembangan sosial dan perkembangan fisik. Setiap anak memiliki peran dalam bermain yang berlainan disesuaikan dengan perkembangan anak. Semakin besar fantasi yang bisa dikembangkan oleh anak dari sebuah mainan, akan lebih lama mainan itu menarik baginya. Bermain menurut ahli psikologi dianggap sangat penting untuk perkembangan fisik dan psikologis sehingga semua anak diberi waktu dan kesempatan untuk bermain dan juga didorong untuk bermain, tanpa memperdulikan status sosial ekonomi keluarga mereka. Dalam membahas akibat sosialisasi dari bermain Lever dalam Hurlock (1999) mengemukakan “Selama bermain anak mengembangkan berbagai keterampilan sosial sehingga memungkinkannya untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat anak-anak”.

Namun kemudian, timbul pertanyaan di benak kita masing-masing sejauh mana permainan memberikan pengaruh pekembangan sosial yang positif bagi anak-anak, karena fakta yang terjadi di era sekarang banyak anak justru bertingkah laku negatif akibat permainan yang biasa mereka lakukan. Hal inilah yang mendasari dibuatnya karya tulis ilmiah ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka timbul beberapa rumusan masalah yaitu:

1. Bagaimanakah konsep-konsep dasar dari permainan?

2. Bagaimanakah upaya mengembangkan sikap sosial anak yang positif melalui permainan?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yang ingin dicapai dalam karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui konsep-konsep dari permainan.

2. Untuk memperoleh gambaran mengenai upaya mengembangkan sikap sosial anak yang positif melalui permainan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Permainan

1. Pengertian

Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada masa anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan waktunya lebih banyak di luar rumah bermain dengan teman-temannya dibanding terlibat dengan aktifitas lain. Karena itu kebanyakan hubungan sosial dengan teman sebaya dalam masa ini terjadi dalam bentuk permainan.

Hetherington dan Parke dalam Hurlock (1999) mendefinisikan permainan sebagai “A nonserious and self-contained activity engaged in for the sheer satisfaction it brings”. Jadi permainan bagi anak-anak adalah suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-mata untuk aktivitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini adalah karena bagi anak-anak proses melakukan sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya.

Buytendjik dan Huizinga dalam Monks, Knoers, dan Haditono (1998: 134-136) mengemukakan bahwa permainan selalu terikat tempat dan waktu. Batas seringkali ditentukan oleh ruang (tempat bermain, lapangan, stadion). Juga waktu menentukan batas permainan (sore hari, hari minggu). Batas permainan anak biasanya tidak jelas. Dengan mengubah kenyataan maka batas-batas tadi dapat diperjelas, misalnya:

a. Memperkecil Kenyataan

Kebanyakan alat permainan adalah imitasi dan kenyataan. Misalnya “sifat kecilnya” permainan mobil-mobilan memungkinkan anak untuk berbuat seakan-akan menjlankan mobil yang sesungguhnya.

b. Memperbesar Kenyataan

Seringkali gerak-gerik dan kata-kata dilebih-lebihkan. Memberikan aksentuasi yang lebih pada perasaan misalnya dijumpai juga pada permainan.

c. Ulangan yang siklis

Dengan ulangan yang siklis (berputar), yaitu selalu melakukan hal yang sama, meskipun dengan variasi-variasi tertentu, timbullah kesan seakan-akan orangnya sendiri dapat menentukan batas-batas ruang dan waktu.

2. Syarat dan Jenis Permainan

a. Syarat Permainan

Anak dan permainan sukar dapat dipisahkan satu sama lain. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa anak akan bermain dengan sendirinya. Jadi, agak mengherankan bila orang berkata bahwa anak harus belajar bermain. Kiranya yang dimaksudkan adalah belajar memperoleh pengalaman.

Bagi perkembangan dalam tahun-tahun pertama, baik bagi manusia maupun hewan, maka perlindungan dan stimulasi merupakan syarat yang mutlak. Hal ini juga berlaku bagi tingkah laku bermain. Biasanya ibulah yang memberikan perlindungan dan stimulasi itu hingga tingkah laku anak dapat bermain.

Di samping perlindungan dan stimulasi maka kesempatan untuk eksplorasi merupakan persyaratan yang penting bagi permainan. Biasanya tingkah laku bermain dimulai oleh penyelidikan terhadap sebuah benda atau suatu person.

Secara singkat, menurut Zulkifli (1992: 43) permainan yang baik memiliki beberapa syarat diantaranya:

1) Mudah dibongkar pasang

Alat permainan yang mudah dibongkar-pasang, dapat diperbaiki sendiri, lebih ideal daripada mobil-mobilan yang dapat bergerak sendiri. Alat-alat permainan yang dijual di toko lebih banyak menjadi bahan tontonan daripada berfungsi sebagai alat permainan. Anak-anak tidak tertarik oleh bagus dan sempurnanya alat permainan yang diproduksi di pabrik itu.

2) Mengembangkan Daya Fantasi

Alat permainan yang sifatnya mudah dibentuk dan diubah-ubah sangat sesuai untuk mengembangkan daya fantasi, yang memberikan kepada anak kesempatan untuk mencoba dan melatih daya-daya fantasinya.

3) Tidak Berbahaya

Para ahli yang telah meneliti jenis alat-alat permainan sependapat tentang alat permainan yang suka mendatangkan bahaya bagi anak-anak, yaitu tangga, sepeda beroda tiga, dan jungkit-jungkitan. Selain itu masih ada lagi alat-alat yang tergolong bahaya, seperti gunting yang runcing ujungnya, pisau yang tajam, kompor, dan sebagainya.

b. Jenis Permainan

Parten dalam Monks, Knoers dan Haditono (1998: 142) meninjau jenis permainan anak-anak dari sudut tingkah laku sosial. Berdasarkan observasinya terhadap anak-anak usia 2 hingga 5 tahun, Parten menemukan 6 kategori permainan anak-anak yaitu:

1) Permainan Unoccupied.

2) Permainan Solitary.

3) Permainan Onlooker.

4) Permainan Parallel.

5) Permainan Assosiative.

6) Permainan Cooperative.

Adapun penjelasan dari kategori permainan yang dikemukakan oleh Parten adalah sebagai berikut:

1) Permainan Unoccupied. Anak memperhatikan dan melihat segala sesuatu yang menarik perhatiannya dan melakukan gerakan-gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidak terkontrol.

2) Permainan Solitary. Anak dalam sebuah kelompok asyik bermain sendiri-sendiri dengan bermacam-macam alat permainan, sehingga tidak terjadi kontak antara satu sama lain dan tidak peduli terhadap apa pun yang sedang terjadi.

3) Permainan Onlooker. Anak melihat dan memperhatikan anak-anak lain bermain. Anak ikut berbicara dengan anak-anak lain itu dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, tetapi ia tidak ikut terlibat dalam aktivitas permainan tersebut.

4) Permainan Parallel. Anak-anak bermain dengan alat-alat permainan yang sama, tetapi tidak terjadi kontak antara satu dengan yang lain atau tukar menukar alat permainan.

5) Permainan Assosiative. Anak bermain bersama-sama saling pinjam alat permainan, tetapi permainan itu tidak mengarah pada satu tujuan, tidak ada pembagian peranan dan pembagian alat-alat permainan.

6) Permainan Cooperative. Anak-anak bermain dalam kelompok yang terorganisir, dengan kegiatan-kegiatan konstruktif dan membuat sesuatu yang nyata, di mana setiap anak mempunyai peranan sendiri-sendiri. Kelompok ini dipimpin dan diarahkan oleh satu atau dua orang anak sebagai pimpinan kelompok.

3. Faedah Permainan

Zulkifli (1992: 41) mengemukakan bahwa beberapa faedah permainan untuk anak-anak adalah sebagai berikut:

1) Sarana untuk membawa anak ke alam masyarakat

2) Mampu mengenal kekuatan sendiri

3) Mendapat kesempatan mengembangkan fantasi dan menyalurkan kecenderungan pembawaannya

4) Berlatih menempa perasaannya

5) Memperoleh kegembiraan, kesenangan, dan kepuasan

6) Melatih diri untuk menaati peraturan yang berlaku

Adapun penjelasan dari faedah permainan untuk anak-anak yang dikemukakan oleh Zulkifli adalah:

1) Sarana untuk membawa anak ke alam masyarakat

Dalam suasana permainan mereka saling mengenal, saling menghargai satu dengan lainnya, dan dengan perahan-lahan tumbuhlah rasa kebersamaan yang menjadi landasan bagi pembentukan perasaan sosial.

2) Mampu mengenal kekuatan sendiri

Anak-anak yang sudah terbiasa bermain dapat mengenal kedudukannya di kalangan teman-temannya, dapat mengenal bahan atau sifat-sifat benda yang mereka mainkan.

3) Mendapat kesempatan mengembangkan fantasi dan menyalurkan kecenderungan pembawaannya

Jika anak laki-laki dan anak perempuan diberi bahan-bahan yang sama berupa kertas-kertas, perca, gunting, tampaknya mereka akan membuat sesuatu yang berbeda.

4) Berlatih menempa perasaannya

Dalam keadaan bermain mereka mengalami bermacam-macam perasaan. Ada anak yang dapat menikmati suatu permainan itu, sebaliknya sementara anak yang lain merasa kecewa: hal ini diumpamakan dengan seni yang sedang menikmati hasil-hasil seninya.

5) Memperoleh kegembiraan, kesenangan, dan kepuasan

Suasana kegembiraan dalam permainan dapat menjauhkan diri dari perasaan-perasaan rendah, misalnya perasaan dengki, rasa iri hati, dan sebagainya.

6) Melatih diri untuk menaati peraturan yang berlaku

Mereka menaati peraturan yang berlaku dengan penuh kejujuran untuk menjaga agar tingkat permainan tetap tinggi.

Mengingat pentingnya faedah bermain seperti yang telah dikemukakan di atas, pendidik hendaknya membimbing dan memimpin jalannya permainan itu agar jangan sampai menghambat perkembangan fantasi. Yang dibutuhkan anak-anak bukannya alat-alat permainan yang lengkap, melainkan tempat dan kesempaan bermain itu.

4. Permainan untuk Kepentingan Belajar (Instructional Games)

Menurut pandangan para ahli psikologi perkembangan, bermain sangat bermanfaat bagi perkembangan kognitif dan kreatif, sebab pada dasarnya bermain itu sangat erat kaitannya dengan perkembangan dari kewajaran dan keindahan gerak manusia. Para ahli antropologi berpendapat bahwa bermain bagi masyarakat primitif berguna untuk mengajarkan teknik-teknik untuk menyelamatkan diri dan mempertahankan hidup. Sebenarnya pandangan itu masuk akal, karena bermain bagi masyarakat yang telah maju, memiliki fungsi yang hampir sama. Seorang psikolog, Jean Piaget (baca; Piase) berpendapat bahwa bermain adalah manifestasi penyesuaian; salah satu dasar proses-proses mental menuju kepada pertumbuhan intelektual. Banyak ahli, menurut hasil pengamatan, menyetujui bahwa bermain adalah suatu mekanisme penyesuaian yang penting bagi perkembangan/pertumbuhan manusia.

a. Permainan sebagai rangkaian kegiatan belajar

Permainan dapat menimbulkan kegiatan belajar yang menarik. Anak didik, terutama yang sedang berada dalam masa pertumbuhan, segera secara langsung menanggapi dengan positif bila ada ajakan untuk bermain. Permainan merupakan suatu selingan bagi acara-acara yang secara rutin berlangsung di kelas dari hari ke hari. Untuk itu, tanggapan yang positif dari siswa terhadap proses belajar dalam bentuk permainan itu merupakan hal yang wajar, karena sebagai imbalan terhadap rasa jenuh akibat berada terus-menerus dalam ruang lingkup kelas. Singkatnya, permainan dapat membantu membuat suasana lingkungan belajar menjadi senang, bahagia, santai, namun tetap memiliki suasana belajar yang kondusif. Dengan bermain, banyak keterampilan/keterampilan dapat dipraktekkan secara berulang-ulang sehingga bisa dikuasai dengan baik. Melalui latihan-latihan dalam melakukan gerakan-gerakan, para siswa lebih matang dalam suatu hal yang membutuhkan keterampilan.

Tentu saja untuk menjadikan permainan itu benar-benar mengandung arti pembelajaran, kegiatan tersebut harus menjurus pada pencapaian kemampuan akademis. Jenis-jenis permainan dalam pembelajaran yang mengandung unsur persaingan (kompetisi), harus dilakukan berdasarkan suatu pemikiran yang matang. Persaingan antara individu melawan individu, dapat merupakan motivasi yang baik, sepanjang dilakukan dengan rasa saling menghormati dan menuju pada pencapaian tujuan pembelajaran. Permainan beregu juga memiliki hal yang sama, hanya perlu ditambahkan adanya kesatuan dan kerja sama dalam kelompok/regu (team) sendiri.

Untuk kepentingan pembelajaran melalui permainan, dimana siswa harus bermain hanya melawan sesuatu yang telah menjadi standar, juga merupakan suatu pilihan yang baik, karena dalam hal seperti ini siswa dilatih untuk bekerja sendiri, tabah, percaya diri, tidak putus asa dan pantang menyerah.

b. Penerapan permainan pembelajaran

Kegiatan seperti ini baik/cocok untuk:

1) Mencapai tujuan kognitif secara umum, terutama yang termasuk pengenalan, membeda-bedakan, latihan-latihan pengulangan, misalnya mengenai tata bahasa, ejaan, kemampuan berhitung, rumus-rumus (kimia, fisika), nama-nama tempat, dan sebagainya.

2) Menambahkan motivasi pada pokok-pokok yang biasanya kurang menarik perhatian siswa, misalnya aturan-aturan tata bahasa, latihan-latihan matematika, dan sebagainya.

3) Latihan-latihan kelompok kecil yang kurang diawasi dan kurang mendapat pengarahan dari guru.

B. Perkembangan Sosial Anak

1. Pengertian

Perkembangan sosial adalah perubahan dari keadaan penuh ketergantungan menuju kemandirian dalam suasana kedewasaan sosial yang bertanggung jawab. Kadar ketergantungan berkurang sejalan dengan perkembangan kemampuam berbagai aspek kepribadian. Ketergantungan sosial secara relatif berakhir waktu individu mampu mandiri dan berdikari dalam kedewasaannya.

Hurlock, (1999: 250) menjelaskan bahwa “Perkembangan sosial berarti kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial”.

Zulkifli, (1992: 45) mengemukakan bahwa:

Perkembangan sosial merupakan interkasi di kalangan manusia; interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, hubungan yang menimbulkan perasaan sosial yaitu perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan hidup bermasyarakat seperti saling tolong menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan antipati, rasa setia kawan, dan sebagainya.

2. Karakteristik Perkembangan Sosial Anak yang Baik

Biasanya keinginan untuk diterima secara sosial cukup kuat untuk menjadi pendorong bagi peningkatan perilaku sosial. Usaha ke arah ini mula-mula dipusatkan pada pembentulan pola perilaku yang tidak baik dan kemudian memperkuat pola perilaku sosial yang baik. Sebagai contoh, anak-anak biasanya kurang menuntut serta lebih kooperatif dan lebih menerima perilaku sosial dengan meningkatnya usia mereka. Sebaliknya, prasangka dan sikap membedakan seringkali meningkat dan jarak antara kedua jenis kelamin semakin melebar.

Adapun karakteristik perkembangan sosial anak yang baik yang dikemukakan oleh Sinolungan (2001) adalah:

a. Kerja sama

b. Persaingan

c. Kemurahan hati

d. Hasrat akan penerimaan sosial

e. Simpati

f. Empati

g. Ketergantungan

h. Sikap ramah

i. Sikap tidak mementingkan diri sendiri

j. Meniru

k. Perilaku kelekatan (attachment behaviour)

Adapun penjelasan karakteristik perkembangan sosial anak yang baik adalah:

a. Kerja sama. Semakin banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan cara bekerja sama.

b. Persaingan. Jika persaingan merupakan dorongan bagi anak-anak untuk berusaha sebaik-baiknya, hal itu akan menambah sosialisasi mereka.

c. Kemurahan hati. Kemurahan hati, sebagaimana terlihat pada kesediaan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain, meningkat dan sikap mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak belajar bahwa kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial.

d. Hasrat akan penerimaan sosial. Jika hasrat untuk diterima kuat, hal itu mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal dibandingkan dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebayanya.

e. Simpati. Anak kecil tidak mampu berprilaku simpatik sampai mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan duka cita. Mereka mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang bersedih.

f. Empati. Empati kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini hanya berkembang jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud pembicaraan orang lain.

g. Ketergantungan. Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal bantuan, perhatian, dan kasih sayang mendorong anak untuk berprilaku dalam cara yang diterima secara sosial. Anak yang berjiwa bebas kekurangan motivasi ini.

h. Sikap ramah. Anak kecil memperlihatkan sikap ramah melalui kesediaan melakukan sesuatu untuk atau bersama anak/orang lain dan dengan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka.

i. Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Anak yang mempumyai kesempatan dan mendapat dorongan untuk membagi apa yang mereka miliki dan yang tidak terus menerus menjadi pusat perhatian keluarga, belajar memikirkan orang lain dan berbuat untuk orang lain dan bukannya hanya memusatkan perhatian pada kepentingan dan miliki mereka sendiri.

j. Meniru. Dengan meniru seseorang yang diterima baik oleh kelompok sosial, anak-anak mengembangkan sifat yang menambah penerimaan kelompok terhadap diri mereka.

k. Perilaku kelekatan (attachment behaviour). Dari landasan yang diletakkan pada masa bayi, yaitu tatkala bayi mengembangkan suatu kelekatan yang hangat dan penuh cinta kasih kepada ibu atau pengganti ibu, anak kecil mengalihkan pola perilaku ini kepada anak/orang lain dan belajar membina persahabatan dengan mereka.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Anak

Perkembangan sosial anak diawali dengan bermain secara paralel, di mana terlihat anak bermain seolah-olah bermain dengan temannya namun ternyata asyik dengan permainannya sendiri. Dengan bertambahnya usia, anak sudah mampu mengikatkan diri bermain dengan anak lain dalam kelompok.

Permainan dapat meningkatkan perkembangan sosial anak. Khususnya dalam permainan fantasi dengan memerankan suatu peran, anak belajar memahami orang lain dan peran-peran yang akan ia mainkan di kemudian hari setelah tumbuh menjadi orang dewasa.

Hubungan orangtua dan pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan sosial anak. Kasih sayang orangtua atau pengasuh selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial dan penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya.

Gender merupakan salah satu aspek penting yang mempengaruhi perkembangan sosial pada masa awal anak-anak. Istilah gender dimaksudkan sebagai tingkah laku dan sikap yang diasosiasikan dengan laki-laki atau perempuan. Sheperd-Look dalam Sinolungan (2001) mengemukakan bahwa kebanyakan anak mengalami sekurang-kurangnya tiga tahap dalam pekembangan gender. Pertama, anak mengembangkan kepercayaan tentang identitas gender, yaitu rasa laki-laki atau perempuan. Kedua, anak mengembangkan keistimewaan gender, sikap tentang jenis kelamin mana yang mereka kehendaki. Ketiga, mereka memperoleh ketetapan gender, sutu kepercayaan bahwa jenis kelamin seseorang ditentukan secara biologis, permanen, dan tak berubah-ubah.

3. Pola Budaya dan Perilaku Sosial

Pola budaya adalah refleksi warisan kolektif yang dipelihara suatu kelompok masyarakat berkebudayaan tertentu. Carl Gustave Jung dalam Sinolungan (2001) mengajukan das Kollective Unbewuszte atau kesadaran kolektif yang diwariskan nenek moyang turun temurun dari generasi ke generasi. Haeckel mengemukakan teori rekapitulasi, bahwa ontogenese dalah rekapitulasi dari phylogenese. Maksudnya perkembangan makhluk manusia pada suatu tahapan (ontogenese) adalah ulangan singkat (rekapitulasi) dari perkembangan jenis (phylogenese) sejak jaman purba.

Pandangan antropolog seperti Haeckel tak terlepas dari pengruh budaya kolektif zaman lampau yang suda terlupakan. Oleh Jung pengalaman kolektif itu tetap ada dalam ketaksadaran kolektif manusia yang mempengaruhi perilakunya. Hal itu terwujud pada pola perilaku warga masyarakatnya. Sebab itu agak mudah mengenali asal usul seseorang dari ungkapan budaya, seperti cara berbahasa, bersikap, berespons menghadapi sesuatu. Penelitian sejumlah antropolog pada banyak suku di dunia menunjuk adanya kesamaan pola perilaku sosial warga pendukung suatu kebudayaan.

C. Upaya Mengembangkan Sikap Sosial Anak Melalui Permainan

Menyertai perkembangan fisik dan psikis sejak masa bayi teramati kegiatan awal dalam bermain dan sikap kompetitif yang wajar dan sportif terhadap sesamanya. Anak mulai bermain dan bercakap sendiri, di rumah atau halaman kemudian meluas kepada tetangga sebaya dan orang-orang lingkungan terdekat. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, kegembiraan, dan kepuasaan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Terlebih jika didorong orang tua dan dipacu orang-orang di sekitarnya.

Dalam kompetisi tersirat perjuangan untuk memenangkan sesuatu sesuai aturan permainan adalah, persaingan kompetitif yang tidak berisi pertentangan pribadi. Setiap pihak ingin mewujudkan diri mengungguli pihak lain dan boleh menang. Pertandingan kompetitif sekalipun keras seperti saling mematikan, tetapi tetap dalam suasana persahabatan. Hal ini tampak dalam kompetisi beberapa jenis olahraga, seperti yudo, karate, tinju, atau bola kaki. Usai kompetisi yang keras, masing-masing pihak bersikap sportif saling berjabat tangan atau berangkulan seperti saudara atau sahabat karib. Sikap positif itu menandai perkembangan sosial yang wajar di tengah sikap kompetitif dalam melakukan permainan di lingkungan masyarakat.

Upaya mengembangkan kemampuan sosial anak berimplikasi pada tanggung jawab pelaksanaan pendidikan dalam kerjasama keluarga, sekolah, dan masyarakat.

1. Keluarga

Orangtua perlu menyadari tanggung jawab menumbuhkan perilaku sosial anak-anak titipan-Nya. Kesadaran itu diwujudkan dalam pembinaan keluarga yang utuh, serasi dan sehat. Di sana orangtua memberi kebebasan bereksplorasi pada suasana kerja sama juga persaingan sehat dalam berbagai kegiatan anak-anak mereka, seperti bermain.

Sesuai dengan perkembangan sosial yang semakin matang, anak secara berangsur-angsur lebih banyak mempelajari mengenai sikap-sikap dan motivasi orang tuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah lakunya. Perubahan ini mempunyai dampak yang besar terhadap kualitas hubungan antara anak-anak usia sekolah dasar dan orangtua mereka (Seifert dan Hoffnung dalam Sinolungan).

Permainan memberikan pengaruh besar dalam mengembangkan kemampuan sosial anak, karena dengan permainan anak-anak dapat mengetahui peran dan fungsinya dalam kelompok, dengan permainan anak juga mempunyai teman yang banyak, teman membuat hidup si anak lebih menarik dan menyenangkan.

2. Sekolah

Sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi perkembangan sikap sosial anak, karena selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, anak menghabiskan kurang lebih 10.000 jam waktunya di ruang kelas. Anak-anak menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah sebagai anggota suatu masyarakat kecil yang harus mengerjakan sejumlah tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang menegaskan dan membatasi perilaku, perasaan dan sikap mereka (Santrock dalam Sinolungan)

Di sekolah, guru membimbing perkembangan kemampuan sikap, dan hubungan sosial yang wajar pada peserta didiknya. Hubungan sosial yang sehat dalam sekolah dan kelas seyogyanya diprogram, dikreasikan, dan dipelihara bersama-sama dalam belajar, bermain dan berkompetisi sehat. Sekolah mengupayakan layanan bimbingan kepada peserta didik. Bimbingan selain untuk belajar adalah untuk penyesuaian diri ke dalam lingkungan atau juga penyerasian terhadap lingkungannya. Kepada siswa diajarkan tentang disiplin dan aturan melalui keteraturan atau conformity yang disiratkan dalam tiap pelajaran (Sinolungan, 2001).

Jenis permainan yang diterapkan di lingkungan sekolah yaitu permainan simulasi yakni gabungan dari sifat-sifat yang dimiliki oleh simulasi (permainan peran, suatu contoh atau sesuatu yang menyerupai sesuatu yang nyata) dengan sifat-sifat yang dimiliki/diperlukan dalam suatu permainan (mempunyai suatu tujuan, mempunyai peraturan dan tata tertib khusus).

Keuntungan yang diperoleh melalui permainan simulasi dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Latuheru (2002: 123) sebagai berikut:

a. Melalui permainan simulasi, anak didik dapat segera melihat/mengetahui hasil dari pekerjaan mereka.

b. Permainan simulasi memungkinkan peserta untuk memecahkan masalah-masalah nyata, dibanding dengan hanya mencari pemecahan masalah melalui bahan-bahan bacaan.

c. Biaya untuk latihan-latihan dapat dikurangi

d. Permainan simulasi memberikan pengalaman-pengalaman nyata dan dapat diulangi sebanyak yang dikehendaki.

e. Pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam alam nyata, hanya dapat diatur secara sederhana dalam suatu permainan di dalam kelas.

f. Bila menggunakan permainan simulasi dalam masalah-masalah pembelajaran maka guru harus berperan sebagai seorang motivator, fasilitator, bahkan seorang penolong.

g. Ada berbagai macam kemungkinan variasi dalam permainan simulasi, sehingga memungkinkan penggunaannya dalam hampir semua bidang.

h. Permainan simulasi juga bisa menggunakan berbagai jenis media, sistem multi media, maupun modul.

3. Masyarakat

Dalam masyarakat berbagai lembaga perlu bergiat secara terpadu memprogramkan kegiatan pendidikan di luar sekolah. Pendidik menyusun dan mengupayakan program penyaluran energi berlebih dalam waktu luang untuk kompetisi berprestasi antar siswa. Juga memprogram kompetisi di bidang seni, olah raga, serta belajar dan bekerja bersama dalam kelompok-kelompok sehat yang bersaing. Dorong dan kembangkan rasa bersalah juga rasa malu melanggar norma-norma kehidupan bersama. Pemimpin yang juga berfungsi sebagai pendidik diisyaratkan memberi teladan dalam interaksi sosial yang sehat bersama lingkungannya. Ia menanamkan penghormatan pada martabat manusia. Juga menumbuhkan solidaritas kelompok serta sifat suka menolong berdasar kasih sayang dengan memperlakukan sesama sebagaimana ia ingin diperlakukan orang lain. Suasana interaksi dalam hubungan sosial tersebut patut dipelihara dan dikembangkan oleh manusia dalam proses pendidikan sepanjang hayat.

Hurlock (1999) mengemukakan bahwa di lingkungan masyarakat, anak mulai bermain bersama dengan teman sebayanya sehingga anak mengerti tentang bagaimana cara belajar bermasyarakat (mereka belajar bagaimana membentuk hubungan sosial dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut).

Perkembangan sosial sejak usia prasekolah hingga akhir masa sekolah ditandai oleh semakin meluasnya pergaulan sosial, terutama dengan teman sebaya. Teman sebaya (peer) sebagai sebuah kelompok sosial sering didefinisikan sebagai semua orang yang memiliki kesamaan sosial atau yang memiliki kesamaan ciri-ciri, seperti kesamaan tingkat usia (Hetherington dan Parke dalam Sinolungan). Akan tetapi, belakangan defenisi teman sebaya lebih ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis (Lewis dan Rosenblum dalam Sinolungan).

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada masa anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan waktunya lebih banyak di luar rumah bermain dengan teman-temannya dibanding terlibat dengan aktifitas lain. Karena itu kebanyakan hubungan sosial dengan teman sebaya dalam masa ini terjadi dalam bentuk permainan. Permainan yang baik memiliki beberapa syarat diantaranya: (a) Mudah dibongkar pasang; (b) Mengembangkan daya fantasi; dan (c) Tidak berbahaya. Adapun faedah permainan untuk anak-anak: (a) Sarana untuk membawa anak ke alam bermasyarakat; (b) Mampu mengenal kekuatan sendiri; (c) Mendapat kesempatan mengembangkan fantasi dan menyalurkan kecenderungan pembawaannya; (d) Berlatih menempa perasaannya; (e) Memperoleh kegembiraan, kesenangan, dan kepuasan; dan (f) Melatih diri untuk menaati peraturan yang berlaku

Permainan memberikan pengaruh pada perkembangan sosial anak diantaranya:

a. Penerimaan lingkungan dan pengalaman positf melalui perkembangan sosial pada anak dapat ditanamkan sikap disiplin

b. Empati, agar anak tidak hidup dalam kepentingan diri sendiri atau seorang egosentris.

c. Peran yakni fungsi anak dalam kelompok.

d. Moralitas anak mengikuti norma-norma yang ada di masyarakat.

2. Perkembangan sosial adalah perubahan dari keadaan penuh ketergantungan menuju kemandirian dalam suasana kedewasaan sosial yang bertanggung jawab. Upaya mengembangkan kemampuan sosial anak berimplikasi pada tanggung jawab pelaksanaan pendidikan dalam kerjasama keluarga, sekolah, dan masyarakat.

a. Keluarga, Orangtua perlu menyadari tanggung jawab menumbuhkan perilaku sosial anak-anak titipan-Nya. Kesadaran itu diwujudkan dalam pembinaan keluarga yang utuh, serasi dan sehat. Di sana orangtua memberi kebebasan bereksplorasi pada suasana kerja sama juga persaingan sehat dalam berbagai kegiatan anak-anak mereka, seperti bermain.

b. Di sekolah, guru membimbing perkembangan kemampuan sikap, dan hubungan sosial yang wajar pada peserta didiknya. Hubungan sosial yang sehat dalam sekolah dan kelas seyogyanya diprogram, dikreasikan, dan dipelihara bersama-sama dalam belajar, bermain dan berkompetisi sehat.

c. Masyarakat, dalam masyarakat berbagai lembaga perlu bergiat secara terpadu memprogramkan kegiatan pendidikan di luar sekolah. Pendidik menyusun dan mengupayakan program penyaluran energi berlebih dalam waktu luang untuk kompetisi berprestasi antar siswa.

B. Saran

1. Sebaiknya para orang tua tidak lagi menganggap bahwa “permainan tidak ada gunanya”. Pendapat tersebut kurang begitu tepat dan bijaksana, mengingat permainan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap perkembangan jiwa anak. Orang tua sebaiknya lebih peduli terhadap mainan yang digunakan sang anak. Jangan memberikan mainan kepada anak dengan pertimbangan mahal tidaknya mainan tersebut. Tetapi disesuaikan antara permainan dengan kemampuan anak.

2. Diharapkan kepada pendidik bahwa dalam pemilihan permainan untuk kepentingan belajar sangat diperlukan penyesuaian kegiatan permainan yang menjurus pada pencapaian kemampuan akademis. Jenis-jenis permainan dalam pembelajaran sebaiknya mengandung unsur persaingan (kompetisi) untuk meningkatkan motivasi bagi anak didik.

3. Bagi guru dan orang tua, sebaiknya selalu mendampingi anak di waktu bermain, hal ini bertujuan untuk memantau perkembangan sosial anak. Kenali perilaku dan psikologi anak, hal ini akan bermanfaat dalam memahami jenis mainan yang perlu diberikan kepada anak. Jangan sampai dengan permainan membuatnya bosan atau bahkan membuat stress anak karena stimulasi yang diterima tidak sesuai. Sebaliknya, permainan yang terlalu mudah pun tak membawa manfaat bagi mereka, karena kurangnya rasa interest dan tak merasa tertantang.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, R., dan Hawadi, 2001, Psikologi Perkembangan Anak; Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Anonim, 2006, Jadilah Model yang Baik Untuk Anak, online, (http://www.ayah-bunda-online.com/info_ayahbunda/default.asp?, diakses 25 April 2007).

Hurlock, E. B., 1999, Psikologi Perkembangan; Suatu pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Erlangga: Edisi Kesatu.

_______, 1999, Psikologi Perkembangan; Suatu pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Erlangga: Edisi Kelima.

Latuheru, J. D., 2002, Media Pembelajaran (Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini), Makassar: Makassar State University Press.

Monks, F. J., Knoers, A. M. P., dan Haditono, S. R., 1998, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sinolungan, A. E., 2001, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Manado: Universitas Negeri Manado.

Smartschool, 2005, Pengaruh Permainan Pada Perkembangan Anak, online, (http://www.e-smartschool.com/uot/001/UOT0010003.asp, diakses 1 Mei 2007).

Surana, T., 2004, Sudah Benarkah Permainan Kreatif Anak Anda?, online, (http://info.balitacerdas.com, diakses 25 April 2007).

Tempo Keluarga, 2005, Mainan yang Mencerdaskan, online, (http://info.balitacerdas.com/mod.php, diakses 25 April 2007).

Zulkifli, L., 1992, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar